SABAR ITU TAK ADA BATASNYA
Oleh. Cecep Zakarias El Bilad
Buku Belajar Bijaksana dari Kaum Sufi, hal.23-41, dowload di sini

Dalam dunia tasawuf, Syekh Abȗ Yazȋd Thaifȗr al-Bisthâmȋ adalah seorang tokoh besar. Beliau lahir di Bistam, Persia, pada 804 M dan tinggal di kota tersebut hingga wafatnya pada 261 H/874 M. Thaifȗr lahir dari keluarga kaya dan terpandang di kota Bistam, namun hidup dalam kesederhanaan. Kedua orangtuanya Muslim, namun kakeknya, Surȗsyân, semula seorang penganut Zoroaster (penyembah api) namun kemudian masuk Islam.
Syekh Yazid adalah di antara tokoh yang mempopulerkan konsep fanâ (annihilation) dalam tasawuf,[1] yakni semacam kondisi kejiwaan yang hadir pada diri seorang sufi dimana berbagai jenis dan level kesombongan dalam dirinya telah runtuh, hingga dia merasa bahwa diri/ke-aku-annya telah musnah. Capaian ini tentu diperoleh dari latihan ruhani yang panjang dan sangat berat. Dan hanya yang bersangkutan, atau yang telah mencapai dan merasakan maqam itu, yang memahami maksud sejati dari konsep tersebut.
Dalam perjalanan ruhaninya, Syekh Abȗ Yazȋd sering dihadapkan pada ujian-ujian untuk meruntuhkan ego atau ke-aku-annya dan meleburkannya dalam kehendak dan kuasa ilahi.
Dikisahkan, Syekh Abȗ Yazȋd sering berziarah kubur. Suatu malam, beliau pulang dari ziarah kuburnya. Saat itu beliau masih di area pemakaman, ketika seorang pemuda yang sedang mabuk mendekatinya, sambil menyanyi dengan sebuah alat musik (kecapi) yang dibawanya.
“Ya Allah, tolongnya kami,” ucap Syekh Abȗ Yazȋd melihat gelagat tidak baik dari pemuda itu.
Ternyata begitu mendekat, pemuda itu mengangkat kecapinya dan melemparkannya ke kepala beliau hingga kecapi itu patah. Darah pun mengucur dari kepala beliau.
Namun karena mabuk, pemuda itu tidak menyadari siapa orang yang dipukulnya itu.
Dengan luka dan darah di kepalanya, Syekh Abȗ Yazȋd melanjutkan perjalanannya pulang ke zawiyahnya.
Pagi pun datang. Beliau kemudian memanggil salah seorang muridnya dan bertanya, “berapa harga sebuah kecapi?”
Setelah diberitahu harga sebuah kecapi, beliau membungkus sejumlah uang seharga kecapi itu dengan sehelai kain, ditambah dengan sedikit makanan. Beliau kemudian mengutusnya untuk memberikan bungkusan itu kepada pemuda itu.
“Tolong berikan ini kepada pemuda itu dan katakan kepadanya,” beliau berpesan, “Abȗ Yazȋd memohon maaf. Katakan kepadanya, ‘tadi malam engkau memukul kepala Abu Yazid dengan kecapimu hingga kecapi itu patah. Dia meminta engkau menerima uang ini sebagai ganti rugi untuk membeli kecapi yang baru. Dan manisan ini untuk menghibur hatimu yang sedih karena kecapimu rusak.”
Pemuda itu pun terhenyak. Ia menyadari apa yang telah dilakukannya tadi malam. Ia bergegas pergi mendatangi Syekh Abȗ Yazȋd. Ia meminta maaf dan bertaubat. Setelah itu banyak pemuda lain juga ikut bertaubat dengannya.
Hikmah
Kisah ini memberikan banyak pelajaran tentang sabar. Selama ini, kita sering mendengar ungkapan orang, “sabar itu ada batasnya.” Jika orang mengatakan itu, berarti ia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit atau penderitaan, sehinga ia ingin melakukan sesuatu untuk segera mengakhirinya.
Ungkapan tersebut sebenarnya bisa bermakna dua hal: pertama, sakit atau derita yang dialami sudah terlampau berat dan dia telah menahannya dengan sekuat kemampuan; kedua, sakit atau penderitaan yang dialami sebenarnya tidak terlampau berat, hanya saja ia tak mau menahannya dan ingin segera berakhir. Oleh karenanya, ungkapan “sabar itu ada batasnya” tak jarang digunakan sekedar justifikasi seseorang untuk meluapkan amarahnya, padahal ia mungkin masih mampu lebih bersabar.
Lalu, bagaimanakah sejatinya sabar itu? Setiap orang pasti sering menghadapi kesulitan dalam kehidupannya. Kesulitan-kesulitan itu memang sengaja Allah ciptakan/hadirkan dalam hidup manusia, sebagai cara untuk menguji kesabaran manusia.
ولَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan Kami pasti akan memberikan kalian sesuatu (kesulitan) berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Maka sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 155).
Di ayat itu Allah mengabarkan, kesulitan dapat hadir dalam banyak rupa. Namun apapun rupanya, yang jelas itu adalah sesuatu atau peristiwa yang mengurangi atau menghilangkan kenyamanan yang selama ini dirasakan; atau yang menghambat kita dalam memperoleh kebutuhan, keinginan atau kesenangan yang diinginkan.
Setiap kesulitan sejatinya hadir atas kehendak dan izin Allah. Namun kehadirannya selalu dalam kerangka sunnatullah sebab-akibat. Ia bisa hadir akibat keberadaan atau ulah seseorang, bisa juga akibat dari sebuah keadaan. Akibat ulah seseorang, misalnya penipuan, pencurian, perampokan, penghinaan, keangkuhan, dan beragam kezaliman dan kejahatan lainnya. Akibat sebuah keadaan, misalnya kemiskinan, PHK, krisis ekonomi, bencana alam, dan lain sebagainya. Pada jenis kedua ini, sulit untuk menunjuk seseorang atau kelompok tertentu untuk dijadikan penyebab kesulitan itu karena mungkin dimunculkan oleh serangkaian faktor dan aktor yang terlibat.
Apapun rupa dan tingkat kesulitannya, orang yang sabar adalah yang selalu sadar bahwa itu semua hakikatnya adalah dari dan oleh Allah SWT. Siapapun orang yang menjadi sebab kesulitan itu, dan bagaimanapun alur ceritanya, itu hanya wasilah yang Allah gunakan untuk menghadirkan kesulitan itu kepada kita. Sikap inilah yang Allah harapkan muncul pada diri hamba-hamba-Nya saat menghadapi kesulitan. Karena bagi orang yang demikian, kesulitan justru menjadikannya semakin sadar akan dirinya yang serba lemah dan tiada daya apapun. Di situlah, ia kemudian mengingat Allah dan sadar akan kekuatan dan kekuasaan Allah atas dirinya. Dengan sikapnya itu, Allah pun menjadi ridha, kemudian melimpahkan rahmat-Nya kepada si hamba itu. Demikianlah seperti dijabarkan dalam kelanjutan ayat di atas:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُون
“Mereka (orang-orang yang sabar) adalah orang yang jika ditimpa musibah, mereka berkata sesungguhnya semua itu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Merekalah yang akan memperoleh kasih-sayang dari Tuhan mereka. Merekalah orang-orang yang terbimbing” (QS. Al-Baqarah: 156-157).
Secara bahasa, sabar (shabara) berarti ‘mengikat’, ‘mengekang’ atau ‘menahan’ sesuatu.[2] Dalam hal ini, sabar berarti mengikat, mengekang atau menahan sesuatu yang ada pada diri seseorang. Sesuatu apakah itu?
Di sini, terlebih dahulu kita perlu memahami struktur batiniah diri manusia. Sebagaimana umum dipahami, manusia adalah sosok dua dimensi: lahir dan batin/jasmani dan ruhani/jasad dan jiwa. Menurut para ahli, baik filsuf maupun sufi, ruhani adalah aspek sejati dari sosok manusia. Badan adalah ibarat kendaraan yang hanya bisa difungsikan oleh seorang supir. Jasad hanya seonggok daging-tulang yang digerakkan dan difungsikan oleh ruhani selaku supirnya.
Ruhani sendiri, yang oleh para filsuf Muslim lebih sering disebut ‘jiwa’ (an-nafs), tersusun atas tiga dimensi, yakni nabati, hewani dan insani.[3] Nabati (an-nabâtiyyah) adalah dimensi jiwa yang memfungsikan organ-organ dan sistem pencernaan, pertumbuhan dan perkembangbiakkan. Kemampuan ini setaraf dengan yang dimiliki oleh tumbuhan, dan yang juga dimiliki oleh binatang.
Hewani (al-ẖayawâniyyah) adalah dimensi jiwa yang merupakan sumber gerak, yang menggerakkan semua organ tubuh manusia. Selain itu, dimensi jiwa ini juga merupakan sumber syahwat dengan berbagai jenisnya seperti makan-minum, seks, kekuasaan, harta-benda, dan lain sebagainya; serta sumber amarah, yakni semacam kemampuan untuk bereaksi secara aktif ketika upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginannya terhambat.
Dimensi ini juga merupakan sumber kemampuan mengindera (dengan semua alat inderanya), merekam hasil penginderaan, menghayal (khayyâl), dan mengingat (hâfizhah). Semua kemampuan yang bersumber dari dimensi hewani ini, pada kadar tertentu setara dengan kualitas jiwa pada hewan.
Sedangkan insani (al-insâniyyah) adalah dimensi yang membuat manusia spesial, lebih sempurna dari hewan dan tumbuhan, yakni sumber kesadaran intelektual dan spiritual. Di sinilah, sumber kemampuan manusia dalam memproduksi pengetahuan dan mengetahui hakiat, baik yang bersifat rasional maupun spiritual. Dalam istilah yang berbeda, dimensi ini mencakup apa yang disebut kaum sufi dengan kalbu (al-qalb).
Nah, kembali ke persoalan sabar. Rasulullah SAW bersabda:
إنّ الصَّبْرَ عِندَ صَدْمَةِ الْاؤُلَى
“Sesungguhnya sabar adalah pukulan yang terberat” (HR.Al-Bukhârȋ).
Sabar itu adalah perintah yang paling berat untuk dijalankan. Ini karena, yang ditahan/dikekang bukan sesuatu yang tampak mata, tapi sesuatu yang ghaib (tak terjangkau pancaindera), dan sesuatu itu bukan berada di luar tapi berada di dalam diri manusia sendiri. Ia bahkan bagian dari diri manusia itu sendiri, yakni dorongan-dorongan syahwat dan amarah yang bersumber dari jiwa hewani. Dari situlah muncul berbagai perasaan emosional seperti senang, suka, nikmat dan nyaman terhadap sesuatu atau aktifitas yang disukai; atau kecewa, sedih, marah, benci, dengki, dendam, dan beragam rasa negatif lainnya ketika dorongan-dorongan syahwatnya tertahan.
Sebagai penggerak seluruh aktifitas tubuh, dimensi hewani inilah yang harus diwaspadai, sebab rawan untuk berbuat melampaui batas-batas kepatutan dalam agama. Maka dari itu, Allah SWT mengingatkan:
وَمَا اُبَرِئُ نَفْسِي, إِنَّ النّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلّاَ مَا رَحِمَ رَبِّي…
“Dan aku tidak berlepas diri, karena sungguh (hawa) nafsu itu selalu menggiring pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku” (Yusuf: 53).
Secara alami, melalui dimensi hewani ini, manusia cenderung untuk terikat dengan hal-hal fisik-duniwai. Untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan, ia melahirkan kebutuhan akan makan-minum, seks, sandang, papan, dan lain sebagainya. Dari situ, kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih abstrak pun muncul, seperti karir, jabatan, harta-benda, dan lain sebagainya.
Setelah terpenuhi, syahwat pun merasakan kesenangan, kenyamanan, kebahagiaan. Di sinilah problem mulai muncul. Semakin terus dituruti, perasaan-perasaan senang itu terus tumbuh dan berkembang. Manusia pun menjadi kian terikat dengan syahwatnya untuk mengejar hal-hal duniawi itu.
Hingga akhirnya sampai di level yang disebut cinta dunia (ẖubb ad-dunyâ). Seseorang menjadi sangat cinta kepada harta, kekuasaan, jabatan, barang-barang mewah, pujian, popularitas, seks, dan hal-hal duniawi lainnya. Sementara dimensi insani sebagai sumber ilmu dan hakikat, kurang terasah dan terbimbing sehingga cintanya pada ilmu dan hakikat sangat lemah. Akhirnya, potensi dan kemampuan berpikirnya cenderung mudah dikendalikan oleh syahwat-syahwat hewani untuk mengejar kemauan-kemauannya.
Kondisi ruhani ini terjadi pada kebanyakan manusia. Dorongan-dorongan syahwat menguasai hampir dimensi jiwanya. Akibatnya, hari-harinya hanya sibuk untuk berpikir dan bekerja demi kemauan-kemauan syahwat, misalnya karir dan pekerjaan, harta-benda, popularitas, keluarga. Waktu luang pun dihabiskan untuk hobi, wisata, dan lain sebagainya. Hingga aktifitas belajar pun tak lagi murni untuk tujuan mencari kebenaran dan mengenal Allah, tapi untuk kemapanan karir, pekerjaan atau jabatan. Hanya sedikit waktu untuk ibadah dan pengabdian pada ilahi. Itu pun sekedarnya untuk menutup kewajiban.
Ia merasa tenang dan bahagia ketika setiap kemauan syahwatnya terpenuhi. Ia sedih dan resah ketika kemauan yang sudah dinikmatinya itu hilang atau belum juga terpenuhi. Ia begitu memanjakan syahwat-syahwat hewaninya hingga ia sendiri diperbudak oleh syahwat-syahwat itu. Tak heran jika Allah memberi peringatan keras:
اَفَرَأَيْتَ مَنْ اتَّخَذَ إِلهَهُ هَوَاهُ وَ اَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ وَ خَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدَيْهِ مِنْ بَعْدِاللهِ أَفَلَاتَذَكَّرُوْنَ
“Apakah kau pernah lihat orang yang menjadikan hawanya sebagai ilâh (tuhan). Allah membiarkannya tersesat dalam kesadarannya. Allah telah mengunci pendengaran dan qolbunya, serta menutup pandangannya. Maka siapakah yang mampu menuntunnya ketika Allah sudah menyesatkannya. Tidakkah kalian ingat?” (al-Jatsiyah: 23).
Maka, sabar sejatinya adalah menahan atau mengekang amarah ketika kemauan-kemauan syahwat itu tertahan oleh sesuatu, seseorang atau kondisi. Seperti diuraikan di atas, amarah akan muncul sebagai reaksi aktif jiwa hewani ketika kemauan syahwatnya tertahan. Reaksi tersebut bisa berupa, misalnya, marah ketika tersakiti badan/perasaannya, dendam ketika terdzolimi, kecewa ketika dikhianati, atau mengeluh ketika terlilit masalah.
Sering kali kemauan-kemauan syahwat juga harus tertahan karena membentur aturan-aturan syariat. Maka dalam konteks ini, sabar adalah mengekang amarah ketika kemauan-kemauan syahwatnya harus dikekang atau dibatasi sehingga tidak melampaui aturan-aturan syariat.
Puncak sabar adalah terbebasnya jiwa insani seseorang (qalbu spiritual dan akal rasionalnya) dari kendali syahwat jiwa hewaninya. Kemudian, rasionalitas dan spiritualitasnya mengarahkan kekuatan-kekuatan syahwat kepada jalan yang diridhai Allah dan menjadikannya kekuatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Level Sabar
Syekh Ibnu ‘Atâillâh as-Sakandarȋ memberi gambaran bahwa ada empat level kesabaran, diukur dari seberapa sukses kita melepaskan diri dari syahwat hewani. Beliau mengambil contoh pada kesabaran saat seseorang terdzalimi,[4] cocok dengan kisah Syekh Abȗ Yazȋd di atas.
Pertama, adalah ketika ketika didzalimi ia bersabar, tidak membalas. Tetapi ia berdoa agar Allah memberikan hukuman yang setimpal kepada orang yang mendzaliminya. Inilah di antara kondisi saat doa seseorang sangat manjur.
وَاتَّقُ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْم فَاِنّه لَيْسَ بَيْنَهَا وَ بَيْنَ اللهِ حِجَابٌ
“Takutlah engkau pada doanya orang yang terdzalimi. Sebab antara dia dan Allah tak ada hijab” (HR. Aẖmad dan Al-Bukhârȋ).
Dari jiwa hewaninya, rasa tersinggung, kecewa, sakit hati dan dendam pun muncul. Namun ia menahan perasaan-perasaan tersebut, kemudian memasrahkan pembalasannya kepada Allah SWT.
Kedua, adalah ketika didzalimi ia mengekang semua perasaannya, dan menggali hikmah dari apa yang dialaminya itu. Sehingga lahir kesadaran dalam dirinya bahwa Allah maha tahu apa yang menimpanya dan selalu memiliki maksud dari apa yang Dia tetapkan kepada mahlukNya. Untuk itu, ia segera menyerahkan persoalan itu kepada Allah. Allah SWT berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّل عَلَى اللهَ فَهُوَ حَسْبُه
“Barangsiapa berserah diri kepada Allah, Dia akan memperhatikannya” (at-Thalaq: 3).
Pada level ini, seseorang sudah jauh lebih baik dari level pertama. Namun rasa kecewa, tersinggung atau kesal masih muncul dari jiwa hewani, meski ia sudah mampu meredamnya dan tidak sampai melahirkan rasa dendam. Tentang balasan apa yang pantas untuk orang dzalim itu, ia mengembalikannya kepada Allah. Ia hanya memfokuskan diri pada makna dan hikmah di balik kedzaliman yang dialaminya. Sebab ia yakin bahwa semua itu terjadi di bawah kehendak Allah SWT.
Ketiga, adalah ketika didzalimi ia tak sedikit pun merasa tersinggung, kecewa, kesal, apalagi marah. Dalam dirinya tak terbesit sedikit pun dendam atau mendoakan balasan kepada si pelaku. Semua kejadian dalam hidup, baik atau buruk, ia serahkan kepada Allah. Baginya, tiada satu pun sesuatu terjadi tanpa kehendak dan keputusan Allah. Dan setiap kehendak dan keputusan Allah selalu mengandung hikmah dan maksud. Oleh karenanya, apapun itu harus dijalani dengan tulus-ikhlas, tak terkecuali kedzaliman yang ia hadapi.
فَتَوَكَّل عَلَى اللهَ اِنّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Berpasrah dirilah kepada Allah. Sesugguhnya Allah mencintai orang-orang yang pasrah” (Ali Imran: 159).
Pada level ini, kesadaran spiritual dari jiwa insaninya telah cukup kuat, sehingga mampu lepas dari syahwat dan amarah jiwa hewani, bahkan lebih unggul dan justru telah mampu mengendalikannya.
Keempat, adalah ketika didzalimi ia justru membalasnya dengan kasih-sayang pada orang yang mendzaliminya. Syahwat dan amarah telah sangat stabil dan terkendali oleh kekuatan rasional dan ruhani dari jiwa insaninya. Baginya, setiap kejadian adalah bagian dari desain kehidupan dari Allah dan senantiasa penuh hikmah dan kebaikan. Pada hal-hal, sesuatu atau seseorang yang dianggap buruk atau negatif sekalipun, semuanya adalah bagian dari desain Allah tersebut.
Baginya, sekalipun kedzaliman tengah ia hadapi, itu adalah bagian dari skenario Allah yang harus ia perankan sebaik mungkin. Siapapun pelaku kedzaliman tersebut, ia hanya aktor yang Allah kehendaki untuk memainkan peran tersebut. Oleh karenanya, ia tetap memperlakukan orang tersebut dengan kasih-sayang. Inilah level para kekasih Allah (waliyullâh), yang disebut Syekh Ibn ‘Ataillah dengan derajat ash-shiddîqîn ar-ruẖamâ’.
Jadi, sabar sejatinya tak memiliki batas. Yang terbatas adalah kemampuan manusia itu sendiri dalam mengamalkan sabar. Kualitas sabar tersebut tergantung pada seberapa tangguh seseorang menahan desakan syahwat dan amarahnya.
Sabar memang bukan perkara mudah. Justru karena itulah Allah SWT menjanjikan penghargaan terbaik untuk siapapun hamba-Nya yang mampu.
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا اَجْرَهُم بِاَحْسَنِ مَاكَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Dan Kami pasti akan menganugerahi orang-orang yang bersabar ganjaran yang terbaik dari apa yang telah mereka lakukan” (an-Nahl: 96).
Dan sabar itu sendiri adalah bagian dari pokok kesempurnaan iman. Sayyidina ‘Alȋ ibn Abȋ Thâlib k.w berkata:[5]
الْصَبْرُ مِنَ الْإِيْمَان بِمَنْزِلَةِ الرَّأسِ مِنَ الْجَسَد
“Posisi sabar dalam keimanan adalah seperti posisi kepala pada tubuh.”
[1] Massignon & M. Abd El Razik, At-Tashawwuf (Lebanon:Dâr al-Kitâb al-Libnânȋ, 1984), hal. 37
[2] Hans Wehr, Al-Mu‘jam al-Lughah al-‘arabiyyah al-Mu’âshirah (Beirut: Maktabah Libnân, 1980), hal. 501
[3] Mullâ Sadrâ, al-Ḥikmah al-Muta’âliyyah fȋ Al-Asfâr al-‘Aqliyyah al-Arba’ah, Beirut: Dar al-Iẖyâ al-Turats al-‘Arabi, 1981, juz VIII, hal. 130-130-132.
[4] Ibn ‘Athâillâh as-Sakandarȋ, Lathâif al-Minân (Kairo: Dâr al-Ma’ârif, 2006), hal. 115-116
[5] Abȋ al-Qâsim Al-Qusyairȋ, Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah (Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, 2011), hal. 226

Leave a Reply